Mencoba Lalapan Lamongan di Bali

Tumpak Coban Sewu Malang Lumajang East Java Globe in the Hat
Behind the scenes. UMM Malang, Indonesia. Globe in the Hat. Ania Tomczak

Sebagai orang Eropa, tentu makanan seperti lalapan adalah sesuatu yang baru. Ketika aku di Indonesia, aku melihat banyak sekali penjual lalapan di pinggir jalan, biasanya mereka buka setiap malam hari.

Oiya, sekarang aku sedang berada di Bali, disini tidak berbeda jauh seperti di Malang (Jawa Timur), ada banyak penjual lalapan yang kebanyakan juga dari Jawa. Meskipun lalapan adalah makanan yang tidak juga menjadi favoritku di Indonesia, paling tidak lalapan bisa menjadi solusi ketika aku ingin mencari protein dan sayur-sayuran, walaupun biasanya penjual lalapan hanya memberi sedikit sayur hehe.

Waktu aku pergi ke Denpasar, aku berhenti disalah satu tempat makan lalapan, kenapa aku memilih tempat ini karena terlihat lebih terang dibanding warung-warung yang lain 😀

Bagi kebanyakan bule, terutama aku, lalapan adalah makanan yang terlalu berminyak. Kalian tahu sendiri, makanan berminyak tidak bagus bagi kesehatan. Yup, kami sangat perduli dengan kesehatan. Apalagi soal makanan, di Eropa kami menghindari makanan berminyak dan berlemak. Anak muda di Eropa saat ini sudah memulai hidup sehat, mereka berlomba-lomba untuk berolah raga dan memiliki gaya hidup sehat.

Tapi, sepertinya di Indonesia kebanyakan tidak tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Mereka sering makan makanan berminyak, manis, dan asin (menggunakan garam).

Lalapan Street Food in Bali, Indonesia. Globe in the Hat

Terlepas dari sehat atau tidak, lalapan tetap saja lalapan. Kebanyakan penjual menggoreng ayam atau lele terlalu kering sehingga dagingnya jadi terlalu keras untuk dimakan. Walaupun begitu, lalapan Lamongan memiliki daging ayam yang besar, biasanya mereka memotong dada utuh atau paha utuh sehingga kalian tidak rugi membayarnya lebih mahal dibandingkan lalapan biasa, tapi itu worth it.

Ada lagi perbedaan lalapan Lamongan dengan lalapan lainnya, yaitu sambal khas yang memiliki komposisi lebih banyak tomat daripada cabai, meskipun demikian, aku tetap saja tidak kuat makan sambal hehe.

Aku tidak terbiasa makan sambal, meskipun itu tidak pedas, aku tetap masih kepedasan. Biasanya aku menyisihkan sambal dan hanya memakan nasi dan ayamnya saja. Untuk lalapannya, terkadang aku ragu untuk memakannya, karena khawatir tidak dicuci atau kurang bersih, jadi aku memilih tidak memakannya daripada aku harus bolak-balik ke toilet karena diare. Iya, aku pernah diare sampai beberapa Minggu hanya karena aku makan selada yang dicuci menggunakan air keran.

Warung Lalapan Indonesia Globe in the Hat

Untuk orang Eropa, dalam beberapa kasus, mencuci menggunakan air keran di Indonesia mungkin berisiko, tapi kalau sayuran sudah dipastikan dicuci denga nair bersih. Sudah dipastikan aku akan makan sebanyak-banyaknya karena sangat enak.

Menurut orang Indonesia, lalapan paling cocok diminum dengan minuman dingin seperti es teh atau es jeruk. Tapi, aku suka dengan minumann hangat, misalnya jeruk hangat, entah kenapa selalu memberiku banyak sekali energi. Dan, yang paling penting aku selalu request untuk tidak memasukkan gula atau susu saat aku memesan jus. Karena di Indonesia, menambah gula kedalam minuman adalah harl yang normal. Itulah kenapa, kata-kata pertama yang aku pelajari di Indonesia bukanlah “Selamat pagi” atau “Terima kasih”, tapi “Tanpa Gula”.

Menurutku, Overall lalapan tidak buruk tapi tidak perfect juga, karena aku terkadang masih memilih lalapan sebagai makanan saat aku tidak sempat memasak atau saat aku sulit mencari makanan karena hanya lalapan yang masih ada di malam hari. 😀

Bagaimana dengan kalian? Apakah lalapan menjadi makanan favorite kalian?

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.